Hikmah adalah barang yang sangat berharga. Senilai harta karun. Dan sebetulnya kita bisa menyerapnya dari manapun.
Namun, muslim yang baik tentu hanya mengambil yang baik pula, bukan? Termasuk pula tiap hikmah yang kita 'impor' dari luar khazanah Islam kita yang begitu megah. Tidak serta-merta menolak atau menerima tanpa curiga.
Sebagai contoh, hermeneutika yang dewasa ini sedang marak digunakan sebagai 'manhaj tafsir alternatif'. Hmm, memang ada apa ya dengan hermeneutika ini? Memang apa bedanya dengan metode tafsir para 'ulama' terdahulu?
Begini kawan, secara etimologi istilah "hermeneutics" sebenarnya berasal dari bahasa Yunani (tahermeneutika), (bentuk jamak dari to hermeneutikon) yang berarti 'hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemah suatu pesan'. Kedua kata tersebut merupakan derivat dari kata "Hermes", yang dalam metologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang ditutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi. Dalam karya logika Aristoteles, kata "hermeneias" berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu.
Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering menggunakan istilah 'interpretatio' untuk tafsir, bukan 'hermeneusis'. "Kata St. Jerome", misalnya, diberi judul "De optimo genere interpretandi" (Tentang betuk penafsiran yang terbaik), sementara Isidore dari Pelusium menulis "De interpretatione divinae scripturae" (Tentang penafsiran Kitab Suci). Adapun pembukuan istilah 'hermeneutics' sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan atau teks, baru terjadi kemudian, pada sekitar abad ke-18 Masehi. Dalam pengertian modern ini, 'hermeneutics' biasanya dikontraskan dengan 'exegesis', sebagaimana 'ilmu tafsir' dibedakan dengan 'tafsir'. (Lihat CAP Adian Husaini, Hermeneutika dan Infiltrasi Kristen).
Pada perkembangannya, hermeneutika digunakan para teolog Kristen untuk memahami teks-teks Bibel dengan satu pertanyaan: Apakah Bibel termasuk kalam Tuhan atau kalam manusia?, Karena setidaknya ada 3 masalah yang dimiliki Bibel (yang tentunya tidak ada dalam Al-Qur'an); masalah otentisitas teks, segi bahasa, dan isinya.
Gerakan penggunaan hermeneutika dalam menafsirkan suatu teks telah dimulai sejak abad 18 Masehi seiring gerakan reformasi yang dihancurkan Martin Luther di Jerman. Mulanya para teolog Prostestan ketika itu mengklaim bahwa setiap orang berhak menafsirkan Bibel, asalkan tahu bahasa dan konteks sejarahnya.
Baru kemudian muncullah Fredrich Schleiermacher, seorang teolog pertama Prostetan, yang pertama kali memperluas wilayah hermeneutika dari sebatas interpretasi atau kitab suci menjadi 'hermeneutika umum', mencakup seluruh teks apa pun. Dalam perspektif ilmu ini, semua teks harus diperlakukan sama, tak peduli apakah kitab suci atai teks karangan manusia biasa.
Muncul pula Dilthey yang merumuskan gagasan ‘historisitas teks’ dan
pentingnya ‘kesadaran sejarah’. Pemahaman kita atas suatu teks
ditentukan oleh kemampuan kita ‘mengalami kembali’ masa lalu teks itu.
Sedangkan Gadamer menekankan bahwa interaksi pembaca dengan teks sebagai
sebuah dialog tanya jawab. Interaksi itu tidak boleh berhenti. Setiap
jawaban adalah relatif kebenarannya, senantiasa boleh dikritik dan
ditolak.
Dengan begitu, kata DR. Syamsudin Arif dalam buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, hermeneutika jelas mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi.
Dengan begitu, kata DR. Syamsudin Arif dalam buku Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, hermeneutika jelas mengandung sejumlah asumsi dan konsekuensi.
Pertama, hermeneutika menganggap semua teks adalah sama. Asumsi ini
lahir dari kekecewaan mereka terhadap Bibel. Campur tangan manusia di
dalamnya ternyata didapati jauh lebih banyak ketimbang apa yang
sebenarnya diwahyukan. Bila digunakan pula pada Al-Qur’an, maka kitab
ini tidak akan dianggap sebagai Kalamullah, akan dipertanyakan
otentisitasnya, dan pada gilirannya akan menggugat kemutawatiran mushaf
Utsmani.
Kedua, hermeneutika menganggap semua teks sebagai ‘produk sejarah’.
Asumsi yang lahir mengingat kasus sejarah Bibel yang problematika
(Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Sedangkan Al-Qur’an merupakan
kitab yang kebenarannya melintasi batas waktu dan ditujukan bagi seluruh
umat manusia.
Ketiga, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptik, selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya. Sikap semacam ini jelas hanya cocok bagi Bibel yang telah banyak gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin), memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi. Tetapi tidak bagi Al-Qur’an yang jelas keshahihan transmisinya hingga menjadi mushaf.
Ketiga, praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptik, selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya. Sikap semacam ini jelas hanya cocok bagi Bibel yang telah banyak gonta-ganti bahasa (dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin), memuat banyak perubahan serta kesalahan redaksi. Tetapi tidak bagi Al-Qur’an yang jelas keshahihan transmisinya hingga menjadi mushaf.
Posting Komentar